Sabtu, 12 April 2008
Tetesan keringat yang banyak berceceranTanpa peduli tuan-tuan campakkanDengan gigih mereka lakukanHanya untuk menginginkan kemenanganWahai kaulah yang menggemarkannyaIngatlah…..Bahwa perjuangan kita adalahkeirngat kitaBahwa tetesan keringat kitaAdalah detik-detik nyawa kita,Tapi dengan mudah tuan-tuanMembiarkan, meninggalakan, dan menetralkannyaDan dengan tidak segan-seganTuan terlantarkan, seperti layaknyasampah……Tuan kemanakah hakekat puasa tuanApakah tuan-tuan puasHanya dengan mengadahkan tanganDitengah malam ……Dan meminta maaf kepada ilahiBagi kami itu adalah doa kuburanyang tak akan mengadahkan ampunanDari sang pencipta alam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar